Logo SantriDigital

Bersyukur

Khutbah Jumat
T
TAUFIQURRAHMAN
5 Mei 2026 4 menit baca 2 views

أَلَا إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَ...

أَلَا إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَأَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَكَشَفَ اللهُ بِهِ الْغُمَّةَ، فَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Sungguh, di dalam dada yang berdetak ini, ada sebuah anugerah terbesar yang seringkali kita lupakan. Sebuah nikmat yang tak terhingga, yang Allah karuniakan bukan karena kita pantas mendapatkannya, namun semata-mata karena kasih sayang-Nya. Hari ini, hati ini terasa berat, saat merenungi betapa seringnya kita berpaling dari hakikat syukur (syukur), padahal setiap helaan napas adalah bukti cinta-Nya yang tak pernah putus. Betapa seringnya kita mengeluhkan sedikitnya rezeki, padahal mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih bisa mendengar, kaki yang masih bisa melangkah, adalah harta yang nilainya tak tertandingi oleh gunung emas sekalipun. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya." (QS. An-Nahl: 18). Bayangkanlah, wahai saudaraku, jika kita diminta menghitung setiap aliran darah di tubuh kita, setiap kedipan mata kita, setiap detik waktu yang telah berlalu… sungguh, takkan pernah terhitung! Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Air mata ini perlahan menetes, bukan karena kesedihan semata, namun karena rasa haru yang menyayat jiwa. Kita datang ke dunia ini dalam keadaan tak memiliki apa-apa, lalu Allah berikan segala sesuatunya. Tubuh yang sehat, akal yang cerdas, keluarga yang menyayangi, rezeki yang mencukupi… namun seringkali, hati kita tertuju pada apa yang tidak kita miliki, melupakan limpahan karunia yang sudah ada. Pagi hari kita terbangun, dan malaikat maut masih belum ditugaskan untuk menjemput ruh kita. Ini adalah nikmat yang luar biasa! Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, yang artinya: "Barangsiapa di antara kalian yang bangun di pagi hari dalam keadaan selamat badannya, sehat pagi harinya, memiliki makanan sehariannya, maka seolah-olah dunia seisinya telah dikumpulkan untuknya." (HR. Tirmidzi). Sungguh, betapa besar nikmat ini yang seringkali terabaikan. Apakah kita sudah bersyukur dengan keselamatan badan kita? Dengan keutuhan panca indra kita? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Kehidupan dunia ini adalah sebuah ujian, tempat kita menapaki jalan menuju keabadian. Dan syukur adalah jembatan yang kokoh agar kita tak tergelincir. Allah SWT berfirman, yang artinya: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7). Sungguh, ancaman itu begitu mengerikan! Bayangkan jikalau azab itu harus kita rasakan saat ini, saat kita lalai dari syukur. Hati ini gemetar membayangkannya. Apakah kita rela dunia yang fana ini membuat kita lupa akan akhirat yang abadi? Lupa akan setiap tetes keringat orang tua kita yang memperjuangkan hidup kita? Lupa akan setiap detik waktu yang seharusnya kita gunakan untuk mensyukuri nikmat Allah dengan lebih patuh? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Duhai jiwa yang seringkali mengeluh, bukankah engkau telah memiliki potensi terindah di dalam diri, yaitu iman? Bukankah Allah telah memilihmu untuk beriman kepada-Nya di antara miliaran manusia yang mungkin belum mengenal-Nya? Bukankah memiliki Islam itu sendiri adalah nikmat sebesar-besarnya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang nikmat yang paling agung, beliau menjawab: "Yaitu iman dan keselamatan." (HR. Ahmad). Maka, marilah kita renungkan, dengan air mata yang mengalir, apakah sudah pantas kita menjadi hamba yang bersyukur? Apakah kita sudah menjaga amanah iman yang Allah titipkan di hati ini? Atau justru kita nodai dengan maksiat, kekufuran, dan kelalaian? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Lihatlah sekeliling kita, betapa banyak saudara kita yang sedang terbaring sakit, yang kehilangan orang yang dicinta, yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Mereka mendambakan setitik dari apa yang kita miliki saat ini. Lalu, kapan kita akan berhenti menghitung apa yang tidak ada, dan mulai menghitung apa yang ada dengan penuh kerendahan hati di hadapan Sang Pemberi Segala Nikmat? Marilah kita bersyukur dengan lisan yang selalu memuji-Nya, dengan hati yang senantiasa mencinta-Nya, dan dengan perbuatan yang senantiasa menaati-Nya. Syukur bukanlah sekadar ucapan 'Alhamdulillah', namun sebuah sikap hidup yang mencerminkan keridaan atas segala ketetapan-Nya, keikhlasan dalam beribadah, dan kesadaran bahwa segala sesuatu kembali kepada-Nya. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah… Duhai diri, janganlah engkau tertipu oleh gemerlap dunia yang semu. Ingatlah tatkala kematian datang, takkan ada harta benda yang bisa menolongmu. Takkan ada pangkat dan jabatan yang bisa membela dirimu. Yang tersisa hanyalah amalan shalihmu, dan penyesalan yang takkan berguna. Marilah kita berseru kepada Allah dengan kerendahan hati, memohon ampunan atas segala kelalaian kita, dan memohon kekuatan untuk menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Biarlah air mata ini menjadi saksi penyesalan kita, dan semoga cinta kita kepada Allah menjadi alasan utama kita untuk terus berjuang di jalan-Nya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →